Tak jarang karena berbagai faktor, entah kelelahan setelah bekerja maupun stres serta faktor lainnya, terkadang kita lepas kendali sampai membentak dan mengancam anak-anak kita hanya karena mereka tidak menuruti perkataan kita sebagai orangtua.
Setelah dibentak dan diancam pun bukan menuruti malah semakin menjadi-jadi. Snewen mungkin dibuatnya. Padahal sebenarnya bukan anak kita yang “nakal”, tetapi respon dan cara kita yang belum tepat dalam menyikapi tingkah laku buah hati kita.
Nah, berdasarkan pengalaman pribadi, membaca buku dan juga konsultasi dengan dokter anak beberapa tips ini mungkin bisa kita praktikkan sebagai orangtua agar anak dapat lebih menuruti dan mendengarkan instruksi dan nasihat kita tanpa bentakan atau pun kemarahan.
Pertama Buat Aturan dan Batasan yang Jelas dan Disepakati Bersama
Anak-anak terutama balita memang dalam fase mempelajari perkara baik dan benar, memisahkan yang bermanfaat atau tidak beserta dengan berbagai konsekuensinya. Peran kita sebagai orangtua adalah membimbing mereka dan memberikan aturan dan batasan yang jelas agar mudah dipahami anak-anak kita.
Kedua, Berikan Pilihan yang Mudah Dipahami
Cung! Siapa di sini sebagai orangtua yang anaknya suka banyak alasan dan misuh-misuh jika sudah diajak mandi atau sarapan pagi hari?
Perkara dunia “mandi dan sarapan” ini sering menjadi PR besar bagi istri dan saya apalagi ketika kondisinya kita akan bepergian.
Namun, setelah mempelajari metode pilihan ini anak kami perlahan mulai patuh untuk mandi dan sarapan pagi sesuai jadwal. Alih-alih cuma meminta anak untuk mandi saja atau pun sarapan saja, istri dan saya meminta anak kami untuk memilihi, “Athar mau sarapan dulu atau mandi dulu?”
Ini adalah pertanyaan seolah “menjebak” mereka untuk memilih salah satu opsi yang harus dilakukan, bukan menanyakan dengan pertanyaan terbuka sehingga mereka mudah berkelit atau mencari alasan.
Ketiga, Menegakkan Garis Batas dan Aturan yang Tegas
Perlu dipahami tegas bukan berarti selalu membentak dan marah-marah kepada anak, alih-alih menaati anak-anak bisa jadi mereka tambah membangkang dan bisa menimbulkan luka batin bagi diri mereka.
Tegas berarti konsisten dan komitmen dalam menegakkan aturan dan batasan baik melalui nada bicara maupun laku kita sebagai orangtua.
Semisal aturan jam tidur atau pun screen time anak kita menonton TV. Istri dan saya bersepakat bahwa anak kami hanya bisa diberikan waktu screen time 1 jam sehari dengan waktu menontonya dibagi semisal pagi, siang, sore dan malam masing-masing 15 menit. Aturan ini pun sudah disetujui dengan anak kami.
Di awal permulaan aturan ini dijalankan anak kami terkadang meminta waktu lebih untuk menonton TV, tidak jarang samapai merengek dan menangis keras ketika waktunya sudah akan habis, namun dia sedang seru-serunya menonton.
Sebagai orangtua tentu sering dilema bagaimana mengatasinya, namun bersama istri kami sudah bersepakat untuk tegas memegang aturan ini meski dengan risiko anak harus menangis keras dan kesal akan kebijakan kami ini.
Kami selalu mengulang komitmen anak dan kami untuk mematuhi waktu maksimal 1 jam sehari, terkadang juga untuk menyiasatinya kami bisa jadi tambahkan waktu menjadi 30 menit untuk sekali menonton dengan konsekuensinya kami sampaikan dia hanya memiliki sisa waktu 30 menit lagi untuk dia manfaatkan, sehingga bisa jadi untuk waktu sore atau malam tidak ada lagi waktu nonton karena sudah diambil lebih awal. Layaknya negosiasi butuh seni khusus dan konsistensi.
Keempat adalah Kerja Sama Tim
Mendidik anak bukanlah perkara kita sendiri layak ungkapan it takes two to tango, memang benar adanya butuh kerja sama suami, istri bahkan keluarga kita terdekat untuk menegakkan aturan semisal di tips pertama, kedua dan ketiga.
Percuma memiliki semua aturan yang jelas tadi, namun ada pihak lainnya yang merusak dan tidak konsisten terhadap itu semua.
Oleh karena itu, penting untuk selalu mengomunikasikan semua aturan serta batasan yang sudah kita buat dengan anak termasuk dengan adik dan kakak kita apalagi orangtua kita serta pihak keluarga mertua, karena tidak jarang kita terjebak pada kondisi kita tidak enakan atau pun canggung untuk memberikan pemahaman kepada keluarga kita.
Contoh kecil adalah ketika orangtua saya saya datang mengunjungi kami sekeluarga. Mungkin karena rindu dan juga ingin menyenangkan hati anak kami yang notabene cucu mereka, akhirnya suatu waktu Ayah dan Ibu saya ingin membelikan anak saya mainan yang “terlalu” banyak ketika kami sedang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan.
Ketika mendengar anak kami meminta ini dan itu, Ayah dan Ibu saya mengiyakan saja dan mulai mengambilkan mainan-mainan yang dipajang di etalase mainan.
Melihat itu saya pun mengajak ngobrol Ibu saya memberitahukan bahwa kami punya aturan tidak tidak boleh banyak beli mainan dalam satu waktu karena jika sekarang kita berikan kesempatan seperti itu bisa jadi dia akan meminta lagi hal yang sama kepada kami atau pun orang lain, dan tentunya hal tersebut kurang baik untuk cucu mereka.
Saya juga menambahkan bahwa ada aturan juga di keluarga kami bahwa setiap anak kami mendapatkan mainan baru maka anak kami perlu memberikan salah satu mainan lamanya yang masih bagus untuk diberikan kepada orang lain semisal ke anak Teteh yang membantu kami di rumah, agar mainan anak kami tidak menumpuk dan anak kami belajar untuk berbagi.
Setelah memberitahu hal tersebut akhirnya Ayah dan Ibu saya memberitahukan kepada anak kami bahwa dia hanya bisa membeli dua buah mainan saja, karena sudah ada aturan tidak boleh membeli banyak mainan dan dengan syarat dua mainan lamanya diberikan kepada orang lain.
Demikianlah keempat kiat agar anak kita dapat mematuhi dan mendengarkan kita sebagai orangtua tanpa harus dengan bentakan dan kemarahan.
Saya akui kondisi ideal ini tentu tidak mudah tercapai bahkan terkadang dengan berbagai macam cara pun anak kita masih memilihi jalan yang berbeda tidak sesuai dengan keinginan kita, namun yakinlah dengan konsistensi dan komitmen yang terus dipraktikkan insya Allah semua akan indah pada waktunya.
Semangat untuk terus belajar para orangtua!
Sumber : (https://www.kompasiana.com/adrian42207/606bcfe88ede485fd836e092/4-kiat-agar-anak-mendengarkan-dan-mematuhi-orang-tua)
